Lampung Timur Melayupost.com β Dugaan pencemaran limbah di aliran Kali Sekampung kembali memicu kemarahan masyarakat nelayan sepanjang aliran kali sekampung di wilayah Kabupaten Lampung Timur. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga kini disebut semakin rusak dan mengancam mata pencaharian masyarakat kecil.
Para nelayan mengaku hasil tangkapan ikan terus menurun drastis sejak limbah diduga mencemari aliran sungai. Kondisi air yang berubah dan rusaknya ekosistem membuat warga semakin khawatir akan masa depan mereka.
Ironisnya, persoalan tersebut disebut bukan baru kali ini terjadi. Warga mengaku sudah bertahun-tahun menyuarakan keluhan, namun hingga kini belum terlihat langkah nyata dari pemerintah.
βSudah tiga kali ganti gubernur, tiga kali ganti bupati, tapi persoalan limbah di kali Sekampung tetap saja dibiarkan. Sampai kapan masyarakat kecil harus menanggung dampaknya?β ujar S salah satu warga dengan nada kecewa.
Menurut warga, pencemaran limbah bukan sekadar merusak air sungai, tetapi juga menghancurkan ekosistem alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan tradisional. Mereka menilai pemerintah terkesan lamban dan kurang serius menangani persoalan lingkungan yang terus berulang.
βKalau ini terus dibiarkan, ekosistem sungai bisa hancur total. Kami hidup dari mencari ikan di Kali Sekampung. Sekarang hasil tangkapan terus berkurang akibat limbah itu,β keluh warga lainnya.
Masyarakat mendesak Pemerintah Provinsi Lampung maupun Pemerintah Kabupaten Lampung Timur segera turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi sungai dan menelusuri sumber pencemaran yang diduga menjadi biang kerusakan lingkungan tersebut.
Warga juga meminta dinas terkait jangan hanya diam dan menunggu laporan demi laporan tanpa tindakan nyata. Mereka berharap ada penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti mencemari sungai, sebab dampaknya langsung dirasakan masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari alam.
Kali Sekampung yang dahulu dikenal sebagai sumber kehidupan masyarakat, kini perlahan berubah menjadi sungai penuh keresahan. Jika pemerintah terus abaikan, bukan hanya ekosistem yang terancam hancur, tetapi juga harapan hidup ratusan nelayan tradisional di sepanjang aliran sungai tersebut.
pewarta yun
