Lampung Timur Melayupost.com β Menjelang senja, aroma kopi, jajanan tradisional, dan aneka kuliner khas Lampung memenuhi kawasan Pasar Senja Desa Wisata Budaya Pugung Raharjo. Tawa pengunjung bersahut-sahutan dengan sapaan hangat para pedagang. Di setiap sudut, tangan-tangan kreatif pelaku UMKM sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.
Hari itu bukan sekadar pembukaan sebuah pasar. Bagi puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Grand Opening Pasar Senja Desa Wisata Budaya Pugung Raharjo menjadi awal lahirnya harapan baru bagi perekonomian masyarakat desa.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah., M.E., M.A.P., secara resmi membuka Pasar Senja dengan prosesi pemotongan pita pada Rabu (15/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, Bupati didampingi Camat Sekampung Udik, Putu Ardiana, S.Sos., M.M.
Usai peresmian, Bupati berkeliling mengunjungi setiap stan UMKM, menyapa para pedagang, berdialog dengan masyarakat, hingga membeli sejumlah produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha kecil.
“UMKM adalah tulang punggung perekonomian masyarakat. Kehadiran Pasar Senja ini kami harapkan menjadi penggerak ekonomi kreatif, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat sektor pariwisata Lampung Timur,” ujar Ela Siti Nuryamah.
Pasar Senja hadir dengan konsep yang berbeda. Tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi ruang bertemunya budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Setiap Sabtu sore hingga malam Minggu, kawasan ini akan diramaikan berbagai produk unggulan UMKM, mulai dari kuliner khas Lampung, jajanan tradisional, kopi lokal, kerajinan tangan, hingga berbagai produk kreatif hasil karya warga.
Keberadaan Pasar Senja juga menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada wisatawan yang berkunjung ke Taman Wisata Purbakala Pugung Raharjo, salah satu situs cagar budaya bersejarah di Provinsi Lampung.
Kolaborasi antara wisata sejarah dan pasar UMKM diyakini mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Di balik setiap lapak sederhana tersimpan harapan keluarga yang menggantungkan penghidupan dari hasil berdagang. Ada yang menjual makanan warisan turun-temurun, ada pula yang menawarkan kerajinan tangan yang selama ini hanya dipasarkan secara terbatas.
Kini, mereka memiliki ruang promosi yang lebih luas.
Penggerak Pasar Senja, Adhari, mengatakan bahwa pasar tersebut lahir dari semangat memberdayakan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis potensi desa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Bupati yang telah memberikan dukungan penuh. Harapan kami, Pasar Senja terus berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM,” katanya.
Menurut Adhari, Pasar Senja juga diproyeksikan menjadi ruang pelestarian budaya, tempat berkumpulnya masyarakat, sekaligus destinasi wisata baru yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Peresmian Pasar Senja terasa semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke kawasan Taman Wisata Purbakala Pugung Raharjo. Momentum tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan potensi wisata budaya serta produk-produk unggulan UMKM Lampung Timur ke tingkat nasional.
Ramainya pengunjung pada hari pembukaan menjadi bukti bahwa desa memiliki potensi besar untuk berkembang ketika budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif berjalan beriringan. Pasar Senja Pugung Raharjo menunjukkan bahwa kebangkitan ekonomi tidak selalu dimulai dari pusat kota. Justru dari desa, melalui kreativitas para pelaku UMKM, lahir optimisme baru bagi kesejahteraan masyarakat.
Setiap makanan yang terjual, setiap kerajinan yang dibeli, dan setiap wisatawan yang datang menjadi bagian dari roda ekonomi yang terus bergerak. Kini, ketika matahari mulai tenggelam di Pugung Raharjo setiap akhir pekan, bukan hanya keindahan senja yang dinantikan masyarakat, tetapi juga harapan baru bagi UMKM untuk terus tumbuh, budaya tetap lestari, dan kesejahteraan warga semakin meningkat.
Pasar Senja Pugung Raharjo bukan sekadar pasar. Ia menjadi wajah baru kebangkitan UMKM, simbol kolaborasi antara budaya dan pariwisata, serta bukti bahwa desa mampu menjadi pusat ekonomi kreatif sekaligus etalase budaya Lampung Timur.
pewarta Yuni
