Lampung Timur Melayupost.com β Pemandangan ribuan ikan mengapung mati di aliran sungai kembali mengundang kemarahan masyarakat. Peristiwa yang diduga akibat rusaknya ekosistem dan pencemaran lingkungan itu bukan lagi kejadian baru. Ironisnya, meski sudah berkali-kali terjadi, diberitakan media, hingga viral di media sosial, belum terlihat adanya langkah tegas yang mampu menghentikan tragedi lingkungan tersebut.
Warga Desa Gunung Raya, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, mengaku sudah lelah menyaksikan kejadian yang terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
“Ini bukan pertama kali. Sudah berkali-kali ikan mati massal. Kami masyarakat kecil hanya bisa menjerit. Mau mengadu ke siapa lagi? Suara kami seperti tidak ada artinya. Sampai sekarang masalah ini terus terjadi,” ujar seorang warga, Sabtu (30/5/2026).
Kematian ikan secara massal ini dinilai bukan sekadar persoalan lingkungan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pengelolaan dan pengawasan lingkungan. Namun hingga kini, masyarakat belum melihat siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.
Yang menjadi sorotan tajam adalah mengapa kejadian yang berulang kali terjadi seolah hanya menjadi berita sesaat. Viral beberapa hari, kemudian hilang tanpa ada kejelasan hasil investigasi maupun tindakan hukum yang tegas.
Jika ikan mati massal terus terjadi, lalu pertanyaannya sederhana: di mana negara? Di mana pengawasan pemerintah? Di mana ketegasan aparat terhadap para perusak lingkungan?
Masyarakat menilai jangan sampai hukum hanya berani menindak rakyat kecil, tetapi kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang diduga memiliki kekuatan, jabatan, atau kepentingan tertentu.
Kerusakan lingkungan bukan hanya membunuh ikan. Kerusakan lingkungan membunuh sumber penghidupan masyarakat, merusak keseimbangan alam, dan mengancam masa depan generasi yang akan datang.
Hari ini yang mati memang ikan. Tetapi jika pembiaran terus berlangsung, bukan tidak mungkin besok yang mati adalah mata pencaharian masyarakat, kualitas lingkungan, bahkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
Warga berharap Gubernur Lampung, Bupati Lampung Timur, dinas terkait, hingga aparat penegak hukum tidak lagi sekadar menunggu laporan atau ramai di media sosial. Masyarakat menuntut tindakan nyata, investigasi terbuka, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang terbukti merusak lingkungan.
Rakyat sudah terlalu sering mendengar janji. Yang mereka tunggu sekarang adalah keberanian pemerintah untuk membuktikan bahwa keselamatan lingkungan lebih penting daripada kepentingan apa pun. Sebab ketika ikan mati berulang kali dan tak ada yang bertanggung jawab, publik berhak bertanya: apakah negara benar-benar hadir, atau hanya menjadi penonton di tengah bencana lingkungan yang terus terjadi?
pewarta Yuni
